MEGATRUH

25 Jul

Featured imageARJUNA memiliki dasanama: Herjuna, Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade, Panduputra, Pandusiwi putra Pandu dengan Kunti, Kuntiputra, Pritaputra, Pritasuta, Indraputra putra Batara Indra, dan Arjuna sendiri berarti putih atau bening. Jlamprong (bulu merak) panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, oleh Prabu Kresna dipanggil Siwil karena berjari enam.

Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan (Palgunadi), Kuntadi karena punya banyak panah pusaka. CIPTANING dan Mintaraga saat bertapa di gunung Indrakila, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamaya setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakawaca, menikahi 6 bidadari, dipanggil Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun. Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa.

Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Kurusetra, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda melawan Kurawa dipimpin Duryudana atau Suyudana, Danajaya karena tidak mementingkan harta. https://wayang.wordpress.com/2010/07/20/pandawa-3-arjuna-permadi-janaka-dananjaya-palguna/

CAKIL hanya terdapat dalam dunia pewayangan Indonesia, dan tidak ada dalam Kitab Mahabarata. Tokoh wayang raksasa, yang kedua tangannya dapat digerakkan (tokoh raksasa pada Wayang Kulit Purwa pada umumnya hanya dapat digerakkan tangan depannya saja, kecuali tokoh raksasa tertentu), itu diciptakan oleh seniman pencipta wayang pada zaman Mataram, tepatnya tahun 1630 atau 1552 Saka. Ini ditandai dengan candra sengakala yang berbunyi Tangan Yaksa Satataning Janma. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Cakil diciptakan pada zaman pemerintahan Sultan Seda Krapyak, raja Mataram kedua. http://wayangindonesia.web.id/cakil.wayang

CAK (ngecakke=menerapkan) bab UKIL (licik, tipu daya) diciptakan oleh situasi kenegaran saat itu yang diukili pihak penjajah berkedok sentana (mata-mata), Cakil masa reformasi saat ini koruptor. Cakil mati tertikam senjata (ulah) sendiri termasuk golongan Buto Papat (empat, sekawan).  ‘Buta Cakil bermuka KUNING, perwujudan dari nafsu akan hal-hal yang indah dan menyenangkan, disebut Supiyah. Buta Terong bermuka PUTIH, perwujudan dari nafsu akan hal-hal yang berhubungan dengan kesucian, disebut Mutmainah. Buta Rambut Geni bermuka MERAH, perwujudan dari nafsu yang berhubungan dengan amarah dan emosi, disebut Amarah. Buta Pragalba bermuka HITAM, perwujudan dari nafsu akan kenikmatan makanan, disebut Aluamah’. Herjaka HS. Tembi, http://arsip.tembi.net/id/news/bale-dokumentasi-figur-wayang/buta-cakil–pemimpin-buta-prepat-5350.html

Pertempuran antara ALA lan BECIK telah dilaksanakan sebulan penuh, Cakil selalu ditampilkan menganggu Satria yang sedang lelana, sifat ALA dapat dimatikan oleh sifat Becik. Mati dan hidup kembali, bab ALA tidak kenal mati. Peperangan yang terjadi dalam diri masing-masing memperebutkan ALA lan BECIK tidak ada saksi, sikap rendah hati, sederhana, bersahabat dimasa muda baru bisa dan hanya bisa disaksikan saat KPK menangkap tangan. Berbeda dengan CICAK dan BUAYA memperebutkan KEBENARAN perang saksi dan disaksikan semua orang di dunia, tidak ada yang mengaku salah, lalu MEA CULPA, MEA CULPA, MEA MAXI MACULPA, Hambeg ADI-GANG (mengandalkan kelincahan Kijang), ADI-GUNG (mengagungkan besarnya Gajah) lan ADI-GUNA (penuh kata berbisa, culas seperti Ular). https://nakulasahadewa.wordpress.com/2014/09/25/adigang-adigung-adiguna/

Perebutan ‘benar’ antara Cicak dan Buaya masih dalam tingkat yang sama, sejajar sudah mampu membentuk opini pro dan kontra yang mendalam, timbul-tenggelam – timbul kembali bak perang kembang (merebut keharuman) PERANG CAKIL tanpa akhir, menunggu HAMBEG PARAMARTA, Narendra Tama (satria piningit?). Tetap terpendam ‘Puan sangat kecewa dengan Jokowi lantaran perolehan suara PDIP yang jauh diluar target (Target 27%, Hasil 18%) padahal “Tim Jokowi” janjikan perolehan 30% kalau Jokowi ditetapkan sebagai Capres pada saat pileg’. Saat ini masuk dalam kategori kebablasan dalam melakukan reformasi “(Ada) orang yang suka mengecilkan Presiden-nya dari belakang layar, tidak berterima kasih sudah diberi jabatan sebagai pembantu (bukan petugas, pen) radja (Presiden),” kata Tjahjo. http://www.merdeka.com/politik/ruhut-dukung-tjahjo-ungkap-menteri-yang-jelekkan-presiden-jokowi.html

WULANG REH, Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam pupuh – MEGATRUH – :

01 Wong ngawula ing Ratu luwih pakewuh, nora kena minggrang-minggring, kudu mantep karyanipun setya tuhu marang Gusti, dipun piturut sapakon,

02 Apan Ratu kinarya wakil Hyang Agung, marentahaken hukum adil, pramila wajib den enut, sapa tan anut ing Gusti, mring parentahe Sang Katong,

03 Aprasasat bakale karsa Hyang Agung, mulane babo wong urip, sapirsa suwiteng Ratu, kudu eklas lair batin, aja nganti nemu ewoh,

04 Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur baya aja ngabdi, angur ngidunga karuhun, aja age-age ngabdi, yen durung eklas ing batos.

Watak ADIGANG, ADIGUNG dan ADIGUNA dalam diri nayaka punggawane praja menandakan ketidakpahaman akan ‘empan lan papan’ condong pada sikap ‘sapa sira-sapa ingsun’. Menobatkan pengganti Sultan yang masih Jumeneng, mengungkit, ‘ngundat-undat’ posisi presiden BUKAN BUDAYA JAWA yang menempatkan Tuhan diatas segalanya, seseorang jadi Presiden, Gubernur atau Bupati hanya karena ‘Ridho Allah’-‘Karsa Dalem Gusti’. Dhawuh Watu Gilang tentang “WONG WUTO NATA NEGARA” di masa Soedjono Hoemardani dilanjutkan dhawuh di Telaga Sarangan ‘KLAMBI ABANG, NUNGGANG JARAN KEPANG, JEBULE WONG WADON”, adalah jawaban perolehan suara terbanyak ‘tidak mutlak’ menempatkan diri sebagai Presiden.

“Wong ngawula ing Ratu luwih pakewuh”, ngawula artinya mengabdi, menjadi abdi, menjadi pembantu Presiden tidak mudah (artinya ‘barang polah saenake, golek duwit nak nuk’ – Ngelmu Bejo, Suryomentaram). Nora kena minggrang-minggring, jangan ragu-ragu anda ditempatkan dalam posisi itu bukan orang lain (mengapa?), karenanya kudu mantep karyanipun’ mantab dalam jabatan (papan) dan melaksanakan dengan cinta kasih (empan).Setya tuhu’ setia pada Ratu dan percaya (tuhu, mituhoni=sendika dawuh), meski telah berbekal lebih (ADI) hal-hal yang sifatnya ‘GANG, GUNG dan GUNA’ dibanding Presiden.

HARDJUNA yang berarti putih dan bening dengan dasanama yang dimilikinya oleh DR. Daoed Joesoef diberi arti TOPENG yang digunakan dalam pengabdiannya, tidak hanya DASA (10) MUKA seperti dikisahkan Romo Sindhunata SJ. yang berjuang melakukan tapabrata dan berhasil memenggal Muka kejahatannya satu persatu, gagal memenggal MUKA CINTA KASIH. Kenakan, terapkan (empan, agemen) TOPENG anda sesuai dengan Jabatan (papan) ‘kudu manteb, nora kena minggrang-minggring’ dengan penuh ‘SETYA TUHU’. Sumangga!!. Rahayu!. Ki Sardjito.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: