MAKUTHA RAMA

15 Okt

RADEN BARATA, putra Dewi Kekayi satu ayah dengan Prabu Ramawijaya, menduduki tahta Ayodya sebagai syarat perkawinannya dengan prabu Dastarata, RAMA TUNDUNG, terusir berkelana dihutan didampingi Dewi Sinta istri yang baru dimenangkan dalam sayembara MENTHANG LANGKAP. Laksmana Widagda menyertainya. Raden Barata mengejar ke hutan dan tidak bersedia menduduki tahta. Dengan penuh kearifan Ramawijaya membimbingnya bagaimana memimpin negara, Hasta Brata. Raden Barata berjanji hanya mewakili dan rela mengembalikan tahta sepulang Prabu Ramawijaya berkelana.

GUNAWAN WIBISANA, adik bungsu DASAMUKA, Rahwanaraja Alengka Diraja bersedih hati, merasa tidak sanggup memimpin kerajaan yang hancur akibat  perang besar BRUBUH NGALENGKA. Bimbingan Ramawijaya memahami 8 watak alam semesta yang saling-mengisi, saling menjaga kelanggengan Bawana Gung dalam ajaran HASTA BRATA membuat Gunawan Wibisana yakin dan merasa dipercaya menduduki tahta Alengka Diraja. Raden Barata dan Gunawan Wibisana mengalami dan mendapat bimbingan dalam era yang sama masa hidup Ramawijaya.

HARJUNA, di masa yang berbeda memperoleh HASTA BRATA berupa WAHYU melalui Begawan Kesawasidhi, titisan Wisnu. Bukan untuk dirinya HARJUNA mengejar WAHYU MAKUTHA RAMA melainkan untuk PARIKESIT cucunya yang terlahir saat akhir RUBUHAN Hastinapura, BHARATAYUDA. Ajaran ini diawali dengan menata cucu-cucu Pandhawa lainnya sebelum Pandhawa Mukswa, menunggu PARIKESIT anak Abimanyu dewasa, dalam pengawalan Prabu BALA DEWA. Dipercaya Parikesit, Yudhayana Gendrayana diteruskan Sudarsono pewaris Pandhawa yang memerintah NUSWANTARA, Majapahit, Mataram sampai Indonesia setelah masa penjajahan yang panjang saat ini.

Perlu pengkajian mengembalikan nama Indonesia menjadi NUSWANTARA. Menurut Arkand, nama Indonesia dalam dunia metafisika tidak memberi energi yang positif bagi bangsa ini. Arkand yang sudah menekuni dunia selama 20 tahun ini meyakini nama Nusantara akan membuat nasib bangsa ini lebih baik. Banyak kebudayaan di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak, begitu pun dengan negara http://www.netralnews.com/news/rebranding/read/16596/11.negara.yang.berganti.nama

NARENDRA, Raja dalam pemahaman Jawa adalah pusat lingkaran kosmis dan dipercaya sebagai titisan dewa (Syiwa atau Wisnu), ’alam pikiran Barat’ membedakan dengan tajam, yaitu dunia, masyarakat, dan alam (adikodrati)’. Memahami tiga bidang yang berdiri sendiri dan masing-masing mempunyai hukumnya sendiri, sebagai satu kesatuan pengalaman yang berpusat pada diri seorang Raja (lihat wafatnya Bhumibol Adulyadej, raja SIAM sejak tahun 1946 – 70 tahun, yang berubah nama menjadi THAILAND di tahun 1949). Pada hakekatnya orang Jawa tidak membedakan antara sikap-sikap religius dan bukan religius, interaksi-interaksi sosial dan sekaligus sikap terhadap alam, dikatakan mempunyai relevansi sosial. Antara pekerjaan, interaksi, dan doa tidak ada perbedaan prinsip hakiki.

Sebagai pusat kosmis seorang NARENDRA, Raja dan Ksatria dengan ketekunannya mampu menangkap obah-polah, osak-asik, gerak-gerik alam semesta melalui pancainderanya masuk, terekam dalam Pikiran (CIPTA) menjadi database, mengklasifikasi, memintal hubungan, melakukan perumusan kemudian mengkomunikasikan timbal-balik ke dalam Rasa (RAHSA) sehingga diperoleh makna atas semua kejadian, perubahan alam semesta. Proses tiada henti menyadari, merefleksi dan melakukan penyesuaian ini melahirkan niat, Kehendak (KARSA) untuk berusaha menata kehidupannya dan kehidupan masyarakatnya berprinsip pada keseimbangan, kerukunan, keselarasan dan keserasian.  (‘ETIKA JAWA’, Franz Magnis Suseno, 1984).

Hasta Brata mencermati 8 (hasta), bakti (brata) jagad gumelar, Surya (matahari), Candra (rembulan), Kartika (bintang), Himinda (awan, mega), Bumi (tanah), Geni (api), Banyu (air) dan Angin (udara). Kedelapan unsur alam tersebut berada di luar diri, sekaligus ada di dalam diri manusia (jagad cilik). Karenanya mereka adalah ‘sak padha-padhane dumadi’, saudara, sesama kita. Dengan memahani watak, sifat kedelapan alam tersebut seorang pemimpin memperoleh anugerah. Dalam kehidupan spiritual pencapaian wahyu hanya dengan laku-lampah, mati raga, puasa, bertapa. Harjuna mampu mengungguli saingannya mencapai Wahyu Makutha Rama termasuk Duryudana, Adipati Karna dan lainnya. Ki Dalang Narto Sabdo mbabar HASTA BRATA dalam pagelaran Wayang Purwa. 

Meneladan Sang Hyang SURYA, Matahari terbit dan tenggelam pada waktunya dan memberi kehidupan. Sinarnya memberi terang, menampakkan semua hal dari kegelapan, tidak ada keragu-raguan, disini diartikan mendidik masyarakat, membuka tabir, memberi teladan kejujuran. Diharapkan pemimpin mampu mengatasi kebodohan, memecahkan kesulitan, mengarahkan ke-keutamaan. Panasnya matahari menghangatkan, menjadi bersemangat (berbela rasa), memberi rasa matang artinya mendewasakan bahkan mampu membakar, menghanguskan apapun disekitarnya yang menyimpang dari ketetapan alam raya artinya seorang pemimpin tidak ragu-ragu menghancurkan hal-hal yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam masyarakatnya.

Meneladan Sang Hyang CANDRA, Rembulan. Pemberi terang di kegelapan malam, terang benderang yang mampu memberi kesejukan dan rasa tenteram. Rembulan dapat dijadikan arahan atau obor petunjuk dalam kegelapan. Artinya pemimpin tidak segan-segan menyingkap keresahan masyarakat bukan hanya dari laporan, tetapi dengan telik sandi melihat kehidupan masyarakat dari sisi gelapnya. Dengan semangat ihklas, bersedia berkorban suci ing pamrih. Dengan sikap itu siapapun yang diperintah kesediannya bukan sekedar melaksanakan tugasnya melainkan dengan sepenuh hati, sehingga apapun yang ditangani tercakup dan yang dikerjakan selesai.

Ketiga meneladan filosofi KARTIKA, Bintang. Nampaknya bintang kecil, seolah hanya sekedar penghias, bunga-bunga angkasa. Filosofi bunga bagi para satria maupun raja adalah tingkah laku, ucapan, penampilan maupun tindakan hendaknya selalu indah, harum dan semerbak. Disamping sebagai hiasan, bunga bisa menjadi pujaan, memuja sesama, leluhur dan Gusti Kang Murbeng Dumadi. Keindahan dan untaian bunga dapat dijadikan cunduk dan juga mampu memperindah. Bagi satria maupun raja segala ucapannya akan dipercaya dan perintahnya dapat diwujudi. Dalam pergaulan akan selalu dihormati.

Himindha, MEGA-MENDHUNG. Awan selalu diatas dan mengatasi semua, anglimputi (menyelimuti) semua mahluk tanpa membedakan, bersikap adil. Disaat awan berubah mejadi hujan, tidak membedakan tinggi-rendahnya gunung-lembah, hutan-padang belantara, desa-kota maupun gubuk-kerajaan dia jatuh dimanapun dan kapanpun. Ini gambaran sikap adil seorang raja harus memilih para penegak hukum mampu dan rela (ihklas) menegakkan sifat adil tanpa pertimbangkan sanak-saudara, kerabat maupun sahabat, siapapun yang wajib diadili harus diadili setimbang dimata hukum dan dilandasi hukuman setimpal (Dana-Dhendha, Sama-Beda).  https://susisardjito.wordpress.com/2016/02/02/anggodo-balik/

Kelima Bantala, BUMI. Bumi bersifat sabar dan tidak mau berhutang budi. Sabar artinya tidak menggeliat meski terinjak-injak, tidak meronta meski dicangkul bahkan memberi hasil yang berlimpah. Bila biji jagung yang dijatuhkan akan dihasilkan jagung, demikian juga biji padi dan jenis tanaman lain. Watak bumi kamot dan momot. Kamot artinya rela diduduki apapun bukan hanya manusia, bahkan tertindih gunung pun tidak pernah terdengar keluhannya. Momot artinya siap menampung apapun termasuk air dan api didalamnya. Seorang Raja atau ksatria harus mempunyai sikap sabar berkelimpahan (‘berbudi bawa laksana’) artinya mau mendengarkan keluhan rakyat kecil, tidak menghukum hanya dari laporan semata demikian juga sebaliknya. Jauhkan penerapan Dana-dhendha Sama-beda, tanpa menyelidiki dengan seksama, mau menyamar sebagai rakyat biasa, untuk pertimbangan mengambil kebijakan secara adil penuh welas asih, ini yang dikatakan momot dan kamot.

Dahana, API – Api baru berwujud ketika ada obyek yang terbakar, artinya kemarahan baru nampak sejak diucapkannya ‘sikap kasar’ yang tumus (terwujud) dalam bentuk hukuman. Api memiliki watak menghangatkan, mematangkan makanan saat dimasak, membakar artinya membasmi, apa saja dan siapa saja yang mengingkari hukum semesta. Begitu juga sikap seorang raja mendahulukan motivasi, mengobarkan semangat bela rasa, bela bangsa dan bela negara  dalam diri para ksatia. Menuntun kematangan sikap para ksatria sampai masyarakat terendah. Memendam kemarahan, menunda sampai pelanggaran terjadi, akhirnya berani memusnahkan sikap menyimpang, sikap serakah, sikap angkara murka. Siapapun yang menjadi penghalang kemajuan negara, menjadi musuh negara, musuh masyarakat. Mereka akan selalu membangun kerusuhan, menciptakan kegaduhan, melakukan provokasi yang berakibat kegemparan, dan selalu membuat onar dalam kehidupan bersama.

Tirta, Samodra, AIR. Air selalu mengalir ketempat yang lebih rendah tanpa henti dan baru berhenti setelah mencapai permukaan yang rata. Keutamaan air adalah memberi kehidupan, dimanapun ada air disitu terdapat kehidupan. Meski puncak gunung, pantai-tepi samudra dan juga daerah yang terlantar, lahan kosong bahkan padang sahara, selama ada air tentu ada tetumbuhan. Tempat minum dan berendam binatang-binatang yang kehausan dan tersengat panas matahari. Kehidupan yang dimaksud bukan hanya manusia, termasuk binatang besar kecil, serangga, belalang, juga semua rumpun-tumbuhan. Raja dan ksatria wajib menjaga, menelusuri sampai tingkat paling bawah masyarakat, memberi kehidupan bagi mereka secara adil, merata. Nguwongke, memanusiakan orang lain, Kemanusiaan (Sila Kedua). Terhadap tumbuh-tumbuhan bersikap yang adil artinya tidak melakukan penebangan sekehendak hati, wajib menanam kembali demi keseimbangan lingkungan hidup. Menjaga kelestarian hidup binatang dan beradab artinya tidak melakukan perburuan semena-mena.

Maruta, Bayu, ANGIN, brata ke delapan adalah meneladan watak angin, Sang Hyang Bayu. Angin berhembus dan mampu menyusup celah-celah gunung, lorong, lembah, goa, kemanapun, menjadi badai yang memporakperandakan kehidupan. Dalam diri manusia menghidupkan dan menjadi pertanda hidup-nafas, menyusup keseluruh mahluk. Pembagian masyakat dalam keberagaman, kasta-kasta termasuk kasta brahmana, kasta waisya dan juga kasta sudra. Para raja dan ksatria harus bisa melebur diri (ajur-ajer) dan mampu menciptakan rasa senang dalam hati setiap lapisan masyarakat. Para brahmana akan merasakan ketenangan memanjatkan syukur, memuja dan melantunkan syukur-pujian dan bersemedi karena dinaungi ketentraman. Kebebasan melakukan ibadat masing-masing. Para waisya mampu mengendalikan kereta, menahkodai bahtera kehidupannya sesuai profesi masing-masing bila dinaungi rasa tenteram. Begitu juga para sudra akan merasakan kegembiraan bila tersedia lapangan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sandhang, pangan dan papan dalam  naungan ketenraman.

Ajaran HASTA BRATA, kepemimpinan Narendra (Presiden, Gubernur, Bupati dan Camat, Walikota sampai ke Ketua RT/RW) meneladan watak alam semesta ini tentu dimengerti tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan, kebersamaan dengan para ksatria (punggawa, menteri, dirjen dan direktur dibawahnya) yang membidangi sifat Matahari, Bulan, Bintang dan seterusnya. Bersikap menghidupi, menentramkan, merangkai para menteri (bunga-bunga pemerintahan), bersikap adil, sabar, berani memusnakan angkara murka, membuka peluang kehidupan, menyejukkan, menyegarkan dan lebur dalam masyarakat.  

Resufle, menggeser, lengser (mundur) mengganti menteri-menteri hak prerogatif presiden adalah kegiatan meronce-merangkai bunga, berharap ‘indah pada waktunya’ bukan mengedepankan ‘negitive thinking’, tanpa rasa takut (‘yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani) disalahkan kemudian. Pengangkatan kembali Jonan dan Arcanda dalam kabinet pertanda, sinyal panggilan bagi putra-putri bangsa yang berprestasi untuk kembali mengabdi tanah air NUSWANTARA JAYA. Pilihan Kepala Daerah serentak saat ini tentu diharapkan muncul para NARENDRA yang memiliki HAMBEG PARAMARTA dan bermahkotakan MAKUTHA RAMA. Teteg, Tatag, Tutug, Tangguh dan Tanggon menjadi Colok, Oboring Urip menegakkan JEJER ing Kapribaden, JEJEG ing Keprabon dan JUJUR ing Pangabekten. Sumangga!!, Rahayu!. Ki-Sardjito.-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: